Ribuan Sarjana Daftar Tukang ojek, Berarti Ada Yang Salah Dari Sistem Pendidikan Tinggi Kita

gojekMeski bergelar sarjana, Idat (32), tidak takut harus bekerja menantang teriknya matahari di Jakarta sambil mengantarkan penumpang ke tempat tujuan.

Warga Slipi, Jakarta Barat, itu rela antre berdesak-desakan dengan ribuan pendaftar lain untuk mengikuti rekrutmen sebagai rider(pengemudi) Go jek, salah satu perusahaan aplikasi untuk memanggil ojek, di Hall Basket Senayan, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2015) siang. Dari ribuan pendaftar, Go-Jek akan membatasi sampai 4.000 orang. Dari jumlah itu, sebagian besar berpendidikan sarjana. (Kompas.com)

pendiri gojek dan grab bikeBerkenaan dengan fenomena Gojek  dan Grabbike yang luar biasa, konon dengan suntikan dana 2 T dr singapore bisa menggerakan ekonomi bangsa. Bagaimana kalau dana Ribuan Triliun Indonesia yang parkir di bank-bank Singapore ditarik ke Indonesia wow…..pasti luar binasa. Tetapi ada rasa prihatin yang mendalam dengan kondisi negeri tercinta ini, selain gagalnya pemerintah dalam menyediakan angkutan publik yang layak  serta manusiawi dan kegagalan mengatasi kemacetan. ada satu lagi kegagalan menurut UUD 45 yaitu gagal menyediakan lapangan pekerjaan yang layak bagi rakyatnya padahal banyak SDA yg bisa diolah anak-anak bangsa, belum lagi  di project-project Infrastruktur dan Listrik justru tenaga kerja asing yang dominan dibanding tenaga lokal di level buruh sekalipun.

Bila ribuan sarjana daftar untuk memilih profesi GO-JEK, GRAB BIKE berarti ada yang salah dengan Dunia Pendidikan di Indonesia dan itu pertanda Menteri Pendidikannya GAGAL-jek. Dari mentri yang dulu sampai sekarang.

Setidaknya ada beberapa  catatan saya  dan sahabat tercinta negeri yang patut dicermati,  dari fenomena Go-Jek dan Grabbike yang dahsyat ini:
1. Pendiri Go-Jek dan Grab Bike adalah seorang yang cerdas dan jeli melihat peluang bisnis di Indonesia. Seorang yang masih muda dan pastinya ahli dalam I.T…. Konon alumni dari “Harvard University”. Nadiem makarim dan Anthoy Tan sama-sama lulusan harvard dan sama-sama pernah membesarkan Shop Online terbesar di Indonesia Lazada.

2. Pola bisnis yang diterapkan bukan bergaya kapitalis, komposisi 80 – 20 %. Pengojek dapat 80 % adalah pola pemberdayaan bagi ekonomi lemah,bukan penghisapan dan eksploitasi kaum dhuafa.

3. Pengojek diberikan Hp seharga Rp 700.000 dan dicicil sehari Rp 7 ribu adalah pola bisnis yang sangat manusiawidan Islami. Meringankan dan tidak memberatkan. serta diasuransikan ketenaga kerjaan jamsostek.

4. Pengojek diberikan pelatihan penggunaan Hp dengan aplikasinya selama 6 jam (sehari) secara gratis.
Berarti dapat ilmu baru tentang I.T secara gratis. artinya memiliki team development yang baik.

5. Jaket dan Helm dipinjamkan sebagai tanda ikatan moril  agar tidak disalah gunakan dikemudian hari.

6. Syarat keanggotaan sangat mudah, cukup dengan menyerahkan identitas diri, seperti BPKB kartu keluarga, photo copy SIM atau KTP, adalah cara yang tidak memberatkan.

7. Pengojek diminta mencantumkan nomor kontak relasi atau kerabat dekat dengan maksud antisipasi bila ada kecelakaan ada yang bisa dihubungi.

8. Antar sesama pengojek dibersatukan dalam ikatan persahabatan dan persaudaraan serta tali silaturahim walau tidak saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Mereka saling tolong menunjukkan alamat dengan senang
hati dan saling tukar pengalaman serta ngopi bersama.

9. Dalam beberapa waktu anggotanya sudah mencapai lebih  dari 30 ribu. Penyerapan tenaga kerja yg luar biasa. wow……!

10. Kalau ribuan sarjana menjadikan profesi GO-Jek  dan Grabbike sebagai alternatif, berarti ada yang salah dengan Dunia Pendidikan kita atau aparat negara yang tidak becus memanfaatkan Sumber Daya Alam Indonesia. Kalau India mengirimkan Ribuan lulusan IT-nya keseluruh dunia menjadi tenaga kerja professional di bidang IT….kalau Indonesia jadi tukang ojek….kata prof Rheinald Kasali…..kita melahirkan generasi-generasi manja dan malas berpfikir. harusnya profesi ojek di isi oleh para pengangguran yang tidak memiliki pendidikan tinggi….tapi justru yang tidak punya pendidikan tinggi menjadi wirausaha yang sukses…jadi kalau mau sukses gak perlu berpendidikan tinggi…. skill labour yang rendah

11. Sarjana menjadi pengojek ???? berarti ada yg salah: lembaga Pendidikannya, etos belajarnya atau pemerintahnya yang tidak mampu menyediakan Sarana Kerja. Harusnya para sarjana menciptakan lapangan pekerjaan…contoh  Evilita Adriani, Mahasiswi berusia 19 tahun asal Surabaya. Dia pun membuat Ojek Syar’i khusus untuk wanita. mampu menciptakan peluang kerja…..

12. Halloooo…. Menteri Pendidikan & Menteri Tenaga Kerja, apa aja sich yang kalian lakukan ??? !!! kerja..kerja…bukan sekedar kerja.

Ojek-Syari

Semoga Tulisan diatas bisa menjadi inspirasi dan pelecut bagi lulusan pergurun Tinggi di Indonesia untuk bisa berkarya  untuk bangsa….. menjadi pribadi-pribadi yang bermanfaat bagi sesama…..karena sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s