Belajar Spirit Kepemimpinan dan Jiwa Nasionalisme Dari “Kertanegara Raja Singosari”

pemilihan presidenAkhir-akhir ini setelah pemilu legislatif usai dan menghasilkan pemenang, walaupun tidak ada partai pemenang yang mayoritas masih dibawah 20% rakyat disuguhi calon-calon pemimpin yang akan memimpin bangsa ini ke depan. Bangsa besar Indonesia yang sejak dulu adalah bangsa yang besar, bangsa yang berbudaya tinggi dan telah mencapai era kejayaan di masa Sriwijaya, Singosari, Majapahit dan Mataram Islam. Di masa-masa itu kita mengenal pemimpin-pemimpin berjiwa nasionalisme tinggi yang mampu membawa Nusantara ke era kegemilanganya  kita kenal BalaPutradewa,  Kertanegara, Hayam Wuruk dengan Gajah Madanya, Diponegoro, Sultan Agung yang gigih melawan Belanda dengan perang Jawa-nya dan Ir Sukarno macan Asia  di era Modern. Mereka adalah putra-putra unggul  ( Maung) Nusantara yang bisa membawa Nusantara  berjaya yang tidak mudah tunduk kepada bangsa asing atau bangsa Super Power Dunia, bahkan salah satu putra Nusantara Prameswara adalah pendiri kesultanan Malaka (Malaysia) yang mampu membawa rakyat Malaysia bangkit dari era keterpurukan kedalam masa kegemilangan.

kertanegaraNah menghadapi pemilihan Presiden 9 Juli 2014 Rakyat Indonesia harus cerdas  memilih pemimpin negeri besar ini, pemimpin yang tegas, memiliki Jiwa Nasionalisme yang tinggi yang mampu membela kepentingan Nasional dan kepentingan rakyatnya serta melindungi bangsanya dari  kekuasaan asing dan membawa kemajuan peradaban, perekonomian dan kesejahteraan bangsa Indonesia serta bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Mungkin kita bisa belajar dari spirit raja Kertanegara dari Singosari yang tidak mudah tunduk pada tekanan dan kekuatan asing.

Saya selalu mengatakan bahwa kita ini semua  adalah ‘’anak cucu raja Kertanegara’’ untuk mengingatkan bukan hanya pelajaran sejarah, tetapi juga fakta bahwa dari zaman dahulu bangsa Indonesia adalah bangsa pemberani, tegas dan tatag, apalagi kalau sudah menyangkut kepentingan nasional. Banyak yang lupa, bahkan juga sebagian diplomat kita, bahwa diplomasi kita tidak hanya dimulai pada tahun 1945 dengan pidato Bung Hatta berjudul ‘’mengayuh diantara dua karang’’ yang menjadi dasar bagi kebijaksanaan politik luar negeri bebas aktif. Bagi saya eksistensi bangsa Indonesia ini kelanjutan dari kerajaan yang sudah pernah ada di bumi pertiwi ratusan tahun yang lampau, termasuk dari kerajaan Singasari.

Keberanian dan ketegasan raja Kertanegara ini tercatat dengan rapi baik dalam sumber – sumber sejarah China maupun Indonesia. Kitab Pararaton dan Kitab Negara Kertagama semuanya mendokumentasikan peristiwa yang mungkin di zaman modern pun tidak akan pernah terjadi: raja Kertanegara dan kerajaan Singasari berani menantang Kaisar Khubilai Khan dari kakaisaran Mongol dinasti Yuan yang berpusat di Tiongkok. Tantangan ini ibarat pemerintah Indonesia melawan Amerika Serikat dalam zaman modern.

Peristiwanya terhadi pada tahun 1289, ketika suatu hari istana kerajaan Singasari kedatangan utusan khusus (semacam duta besar di zaman modern) bernama Meng Khi. Kehadiran utusan ini mula – mula diterima dengan baik, sebagaimana misi diplomatic lain yang tiba di istana. Maklum, meski kerajaan Singasari terletak di pedalaman pulau Jawa, tetapi alur pelayaran di selat Malaka berada dibawah kekuasaannya. Dengan demikian  kekuatan besar dunia waktu itu, India, Persia, China, Siam, Khmer dan sebagainya semuanya memerlukan kontak diplomasi dengan Singasari.

Pada 1275 ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku). Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa
kali datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari. Namun Kertanegara telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun sebelumnya. Singasari kemudian dikuasai oleh  Jayakatwang. Pasukan Mongol menghancurkan Kerajaan Kediri dan membunuh Jayakatwang karena menyangka Kerajaan Kediri sebagai Kerajaan Singasari dan Jayakatwang sebagai Kertanegara. – See more at: http://tabloidbhineka.blogspot.com/2012/11/ken-arok-penguasa-kerajaan-singasari.html#sthash.oyZBmmD2.dpuf

Normalnya seorang diplomat pada zaman itu ialah datang dengan membawa hadiah cendera mata berharga dan lalu menyampaikan surat dari rajanya, semacam ‘’letter of credential’’ dalam tata hubungan diplomatic sekarang ini.  Tetapi duta besar Meng Khi ini karena merasa utusan dari Negara super power, berlagak jumawa. Memang, misi yang dibawanya menunjukkan arogansi kekaisaran Mongol. Dalam surat yang disampaikannya, Kaisar Khubilai Khan menuntut raja Kertanegara dan kerajaan Singhasari agar tunduk dibawah kekuasaan dinasti Yuan. Mereka minta Kertanegara berangkat ke Tiongkok dengan membawa upeti dalam jumlah besar sebagai tanda ketundukan kerajaannya kepada negara super power ini.

Wilayah Kekuasaan Singosari

Wilayah Kekuasaan Singosari

Pada 1275 ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku). Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa kali datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari.

Mongol Empire

Mongol Empire

Pada zaman itu tak ada satu bangsa pun yang berani melawan pasukan Mongol. Pasukan kavalerinya sudah merambah dan menghancurkan bangsa- bangsa dari Hungaria dan Polandia, Russia, Baghdad dan seluruh Timur Tengah, sebagian India, seluruh Asia Tengah, Korea dan sebagian Asia Tenggara. Jepang terhindar dari kehancuran karena tertolong oleh angin topan Kamikaze yang menghancurkan armada Khubilai Khan dalam dua kali invasinya.. Mongol berhasil membangun kekaisaran terbesar dalam sejarah dunia, melebihi Julius Caesar, Iskandar Agung, atau raja manapun baik dari eropa atau Asia.

W.H.Barlett dalam bukunya yang berjudul ‘’Mongols, From Genghis Khan to Tamerlane’’, mengatakan bahwa dalam menanggapi ultimatum Meng Khi atas nama Khubilai Khan ini, raja Kertanegara adalah paling inovatif.   Yakni dengan memotong kuping Meng Khi dan menulis jawaban sikapnya dengan mentato dahi utusan yang pongah itu.  .

genghiskhanBenar juga, tindakan raja Kertanegara mengundang kemurkaan luar biasa kaisar Khubilai Khan. Sebuah armada besar disiapkan untuk menghukum Singasari. Pasukan  berkekuatan  dua ‘’tumen’’ (nama satuan setingkat divisi dalam pasukan Mongol) dikirim untuk memberi ‘’pelajaran’’ raja Kertanegara atas sikapnya yang dianggap ‘’kurang sopan’’ tersebut. Pasukan ini dipimpin oleh tiga jenderal senior yakni seorang Mongol Shih Pe, seorang jenderal suku Uighur Ikhe Mase dan seorang jenderal China bernama Kao Hsing.

Kertanegara tidak tinggal diam setelah kepulangan Meng Khi. Dia sudah merasa sudah pasti akan ada pasukan invasi. Untuk itu, dia mengirimkan pasukan yang bernama Kespedisi Pamalayu yang dipimpin senopati Mahesa Anabrang yang mumpuni. Pasukan ini ditempatkan di kawasan Palembang, Bangka Belitung dan Jambi. Diperkirakan mereka akan transit dulu di daerah itu sebelum menyerbu Jawa. Kertanegara ingin menghabisi pasukan Mongol  dengan strategi apa yang kini terkenal dengan istilah ‘’forward defense’’.

Ternyata,  Kertanegara salah perhitungan. Pertama, ketika sebagian besar pasukan Singasari diberangkatkan untuk mencegat invasi pasukan Mongol, adipati Jayakatwang yang masih memendam dendam karena nenek moyangnya dikalahkan Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, melakukan serbuan kudeta yang malahan juga menewaskan sang raja. Kedua, pasukan invasi Mongol ternyata tidak transit di Palembang atau daerah sekitarnya sebagaimana jalur laut kapal – kapal dari Tiongkok waktu itu, tapi langsung menuju Tuban yang merupakan salah satu pelabuhan penting di laut Jawa saat itu.

Sebagaimana sudah ditulis dalam buku sejarah, mereka gagal menghukum raja Kertanegara tetapi dimanfaatkan raden Wijaya untuk menumpas raja Jayakatwang. Pasukan Mongol yang berjumlah 20.000 orang itu kabarnya bisa mengalahkan 100.000 pasukan Daha dalam waktu satu hari saja. Maklum, meski jumlahnya sedikit, persenjataan nya sudah lebih maju, diantaranya sudah mengenal bom dan meriam meski dalam bentuk yang sederhana.

Setelah sukses mengalahkan Daha, giliran pasukan raden Wijaya yang menghajar pasukan Mongol sehingga lari kocar kacir ke Ujung Galuh. Di kota yang kemudian berganti nama menjadi Surabaya inilah pada tanggal 31 Mei 1293, pasukan Mongol dibinasakan pasukan Majapahit. Sebagian menyerah dan sisanya yang bisa melarikan diri menuju kapalnya di Tuban buru buru kabur ke Tiongkok. Para komandan  invasi ini mendapat hukuman dicambuk oleh kaisar Khubilai Khan. Hanya Ike Masu, jenderal asal Uighur yang tidak dihukum karena dia sudah memperingatkan dulu kemungkinan akan adanya serangan dari pasukan Majapahit. Entah karena taktik yang jitu atau keteledoran pasukan Mongol, nyatanya mereka terusir dari Ujung Galuh. Wajar kalau kemenangan penting ini dirayakan sebagai hari jadi Surabaya.

raden wijayaTiga jenderal Yuan, kehilangan semangat karena terusir dari tanah Jawadwipa dan kehilangan banyak prajurit elit, akhirnya kembali ke Cina bersama sisa pasukan yang selamat. Mengetahui bahwa pasukannya gagal, Kubilai Khan menjadi sangat marah. Dia menghukum Shi-bi dengan 70 cambukan dan menyita sepertiga harta kekayaannya karena kegagalan yang menimpa pasukannya. Ike Mese juga dihukum dan sepertiga harta kekayaannya disita. Sementara Gaoxing mengalami nasib yang berbeda, dia dihadiahi 50 tael emas karena melindungi pasukan dari kehancuran total. Di kemudian hari, Shi-bi dan Ike Mese dimaafkan, dan kaisar mengembalikan reputasi serta harta kekayaan mereka.

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer terakhir Kubilai Khan. Sebaliknya, Majapahit kemudian menjadi negara paling kuat pada masanya di Nusantara.

Daniel Novotny, seorang ahli politik dari Ceko dalam bukunya berjudul “ Torn Between China and America’’ memberikan gambaran yang sangat jelas, sebagian orang Indonesia sampai sekarang masih bangga dengan keberanian raja Kertanegara melawan kaisar Mongol itu. Intinya, sekalipun waktu itu dinasti Yuan merupakan Negara terkuat di dunia, tetapi jika sudah menyangkut harga diri dan kedaulatan Negara tidak sudi menyerahkan diri begitu saja.

‘’Semangat raja Kertanegara’’ inilah yang kini saya mencoba ikut menanamkannya kepada rakyat indonesia dan  politisi Indonesia dalam memilih pemimpin bangsa. Saya pernah secara acak mengetes beberapa pelajar dan mahasiswa Indonesia, nyatanya hanya sedikit yang mengetahui peristiwa ini. Jadi bagaimana mungkin akan mengambil pelajaran dan semangat Kertanegara jika diantara  kita banyak yang tidak mengetahuinya.

Indonesia di kuasai oleh AsingDalam arti praktis, semangat ini bisa diwujudkan dalam  sikap untuk lebih memilih dan mendukung kepentingan nasional dari pada membela kepentingan Asing. Andaikata kita semua sepakat  melaksanakan semangat Kertanegara maka saya yakin kondisi sekarang ini  tidak akan terjadi. Kita tidak akan membeli barang – barang produk asing yang murah tapi berkualitas jelek, apalagi dikadalin dengan harga mahal namun tapi barang jelek dan berkarat, kita juga mandiri dan berdaulat di bidang pangan dan energi. Andaikata kualitasnya sama saja, kita tetap harus memilih produk domestik, sehingga Industri dalam negeri berkembang dan UKM-UKM kita bisa bersaing dengan produk-produk luar negeri. Kita harus menjadi produsen bukan hanya konsumen yang menyebabkan devisa ribuan triliunan rupiah tiap tahun lari dibawa ke luar negeri.

Beli 100 persen IndonesiaMakanya dari sekarang, sikap boros dan kosumtif, suka ngelencer dan sebagainya kita hilangkan. Siapa yang harus mempelopori, yang terbaik tentu jika dimulai dari elite pemimpin kita. Mari kita pilih pemimpin-pemimpin yang mengutamakan kepentingan Nasional Bangsa Indonesia dan membabat habis koruptor seperti ratu Shima yang memotong tangan anaknya yang mengambil barang yang bukan miliknya dijalan. Dan menjadikan Produk-produk Indonesia menjadi Tuan di rumahnya sendiri, sehingga kita bukan menjadi bangsa pengimpor no 2 di Dunia setelah Singapura. Jangan salah anda dalam memilih Pemimpin Negeri Ini….karena nasibnya bisa sengsara sampai ke anak cucu kita.

Pada 1275 ia mengirim pasukan untuk menaklukkan Kerajaan Sriwijaya sekaligus menjalin persekutuan dengan Kerajaan Campa (Kamboja). Ekspedisi pengiriman pasukan itu dikenal dengan nama Pamalayu. Kertanegara berhasil memperluas pengaruhnya di Campa melalui perkawinan antara raja Campa dan adik perempuannya. Kerajaan Singasari sempat menguasai Sumatera, Bakulapura (Kalimantan Barat), Sunda (Jawa Barat), Madura, Bali, dan Gurun (Maluku). Pasukan Pamalayu dipersiapkan Kertanegara untuk menghadapi serangan kaisar Mongol, Kubilai Khan, yang berkuasa di Cina. Utusan Kubilai Khan beberapa
kali datang ke Singasari untuk meminta Kertanegara tunduk di bawah Kubilai Khan. Apabila menolak maka Singasari akan diserang. Permintaan ini menimbulkan kemarahan Kertanegara dengan melukai utusan khusus Kubilai Khan, Meng Ki, pada 1289. Kertanegara menyadari tindakannya ini akan dibalas oleh pasukan Mongol. la kemudian memperkuat pasukannya di Sumatera. Pada 1293 pasukan Mongol menyerang Kerajaan Singasari. Namun Kertanegara telah dibunuh oleh raja Kediri, Jayakatwang, setahun sebelumnya. Singasari kemudian dikuasai oleh  Jayakatwang. Pasukan Mongol menghancurkan Kerajaan Kediri dan membunuh Jayakatwang karena menyangka Kerajaan Kediri sebagai Kerajaan Singasari dan Jayakatwang sebagai Kertanegara. – See more at: http://tabloidbhineka.blogspot.com/2012/11/ken-arok-penguasa-kerajaan-singasari.html#sthash.oyZBmmD2.dpuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s