Rupiah Melemah Perajin Tahu & Tempe Menjerit, Kenapa Tidak Coba Tempe Daun Singkong

Tempe TahuBekasi, Rupiah Melemah, Perajin Tahu dan Tempe Berhenti Produksi,  – Nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap dolar berimbas pada kenaikan harga sejumlah produk impor, salah satunya adalah  kedelai sebagai bahan baku utama tempe.Harga bahan utama pembuatan tahu dan tempe itu meningkat hampir 100 persen pascalebaran hingga sampai saat ini.Pedagang kedelai grosiran sekaligus pemilik kios Bejo, Wijono Handoko (66) mengatakan, selama bulan Puasa lalu harga kedelai masih stabil di angka Rp 7.100-Rp 7.500/kg. Tapi kemudian beranjak naik Rp 100-Rp 200/kg setiap hari hingga  sekarang mencapai Rp 8.100/kg.

“Kenaikannya memang tidak sekaligus, tapi sedikit demi sedikit hampir setiap hari. Selepas Lebaran lalu harganya terus naik sampai sekarang. Kata pemasok, kemungkinan harganya kembali naik karena rupiah masih melemah,” ujarnya di kiosnya, Jumat (23/8).

kedelaiDia menuturkan, harga kedelai memang rentan perubahan baik naik maupun turun. Terutama karena komoditas ini diimpor dari Amerika Serikat yang sangat dipengaruhi kondisi pasar global.”Sampai sekarang kedelai masih impor. Kedelai lokal sulit diandalkan meski dengan harga lebih murah. Konsumen pun cenderung memilih kedelai impor meski dari kualitas masih lebih baik kedelai lokal,” katanya yang mengaku naiknya harga berdampak pada penurunan penjualan.

perajin tahuKenaikan harga kedelai ini dikeluhkan para pengusaha atau perajin tahu dan tempe di seluruh wilayah Indonesia . Mereka merasa keberatan dengan tingginya harga kedelai ini, karena hampir semua bahan baku sudah mahal.Ketua Klaster Karya Boga Kota Magelang, Hasanudin mengaku para perajin tahu dan tempe frustasi dengan kembali melonjaknya harga kedelai. Apalagi, belum lama ini harga bahan bakar minyak (BBM) sudah naik yang mengerek semua kebutuhan pokok masyarakat.

“Naiknya harga kedelai tentu sangat memberatkan kami para pengusaha kecil. Sudah harga BBM mahal, ditambah harga kedelai yang juga mahal. Padahal, untuk menaikan harga jual produk sulit dilakukan mengingat beberapa bulan lalu sudah dinaikan harga jualnya,” tuturnya mengeluh.Inilah kalau kita tergantung terhadap import buka swasembada tapi didalam kesulitan pasti ada jalan kenapa tidak mencoba tempe daun singkong yang gak kalah sehat dan bergizinya. Ibarat Pepatah “Kedelai Mahal daun Singkong pun jadi” Toh si anak singkong aja bisa jadi Milyuner kok.

Tempe Daun Singkong

tempe daun singkongSelama ini yang saya tahu, tempe hanya bisa terbuat dari biji-bijian: kedelai, kacang benguk, atau biji turi. Tapi, ternyata tempe juga bisa dibuat dari daun singkong. Informasi ini saya dapatkan dari halaman FB milik Majalah TRUBUS.

Dari halaman majalah Trubus:

Ini tempe baru, bukan dari kedelai atau kacang koro, tetapi daun singkong.

Daun singkong bahan baku tempe? Betul, bahkan citarasanya amboi lezatnya. Tempe daun singkong berkualitas baik bertekstur lembut dengan aroma khas dan bagian dalam berwarna  hijau gelap. Keruan saja kita dapat mengolahnya menjadi beragam penganan dengan menggoreng, menumis, atau menggulai. Bukan hanya lezat, tempe daun singkong juga kaya gizi.

Hasil pengujian di Balai Riset dan Standarisasi Padang, Provinsi Sumatera Barat  dan Laboratorium Fakultas Peternakan Universitas Andalas menunjukkan kandungan protein total tempe daun singkong 20 – 30%. Bandingkan dengan protein susu yang mencapai 25% atau kedelai 35-43%. Selain itu menurut Badan Pangan dan Pertanian (FAO) daun singkong kaya vitamin A dan vitamin C.

Tak sengaja

tempe daun singkong gorengDaun singkong  mengandung 11.000 IU vitamin A dan 275 mg vitamin C dalam 100 gram. Buah yang identik dengan vitamin C, yakni jeruk hanya mengandung 50 mg, sedangkan 1 gelas jus apel memiliki 20 IU  vitamin A. Kedua kandungan nutrisi itu berfaedah bagi kesehatan mata dan kekebalan tubuh, terutama pada anak-anak.  Artinya tempe daun singkong menjadi salah satu pilihan untuk memenuhi kebutuhan kedua vitamin esensial itu.

Sebagian masyarakat Padang, Sumatera Barat,  juga menerima kehadiran tempe pendatang baru itu. Harap mafhum, citarasanya memang lezat. Padahal, ketika pertama kali tempe daun singkong hadir, banyak yang menolak untuk mencicipinya. Boleh jadi karena penampilan tempe daun singkong yang kehijauan itu berbeda jauh dengan tempe yang mereka kenal. Namun, lama-kelamaan mereka justru menggemari penganan unik itu.

Tempe daun singkong memang bukan satu-satunya tempe nonkedelai. Di tanahair banyak terdapat tempe berbahan dasar nonkedelai – meski termasuk kelompok legum seperti  tempe koro benguk (bahan biji karabenguk Mucuna pruriens), tempe gude Cajanus cajan, dan tempe koropedang Canavalia ensiformis. Selain itu terdapat pula tempe berbahan baku nonlegum seperti tempe mungur berbahan baku biji mungur Enterolobium saman, tempe bongkrek (bungkil kapuk Ceiba pentandra), dan tempe karet (biji karet Hevea brasiliensis).

Alasannya jika cendawan Monelia sp mampu tumbuh di daun singkong, ragi tempe Rhizopus oligosporus mungkin dapat juga berkembang di media serupa. Mula-mula daun singkong muda – seperti untuk sayuran – direbus agar lunak, kering angin, dan segera ditaburi ragi tempe saat dingin, dan dibungkus. Prosesnya sama persis dengan membuat tempe dari kedelai Glycine max. Namun, tiga hari kemudian ragi gagal tumbuh  dan berkembang karena kadar air yang tidak pas.

Rahasia rutin

Setelah beberapa kali gagal, akhirnya pada 2006 tempe daun singkong pertama pun berhasil dibuat. Proses fermentasi berlangsung 2 – 3 hari, sama dengan pembuatan tempe berbahan baku kedelai. Tempe daun singkong jelas menarik karena menggunakan bahan baku yang bergizi, murah, dan mudah ditemui.

Karena bergizi, tempe daun singkong berfaedah sebagai bahan pangan untuk peningkatan gizi masyarakat. itu karena tempe mengandung protein tinggi dan mudah dicerna. Selain itu bahan baku melimpah, berbeda dengan kedelai yang selama ini mesti kita impor. Potensi daun singkong di Indonesia cukup besar karena penghasil singkong nomor tiga di planet Bumi setelah Nigeria dan Brasil.

Produksi singkong Indonesia pada 2010 mencapai 22-juta ton dari lahan 1,6-juta ha. Dari perkebunan singkong Manihot esculenta terdapat 2 – 3 ton daun segar  per ha. Artinya potensi daun singkong di Indonesia mencapai 3.200.000 – 4.800.000 ton daun segar per tahun. Itulah sebabnya peluang daun singkong sebagai bahan tempe sangat besar.

Pengolahan ampas daun singkong menjadi tempe sebetulnya merupakan hasil samping ekstraksi senyawa bioflavonoid bernama rutin. Rutin suatu senyawa glikosida yang mengandung aglikon kuersetin dan gula rutinosa. Senyawa itu disebut juga vitamin P yang berfungsi untuk menjaga permeabilitas pembuluh darah.

Rutin juga merupakan bahan industri obat, zat pengatur tumbuh, dan kosmetik. Untuk  memperoleh  senyawa itu dengan cara mengendapkan air perasan daun singkong,  Prosesnya  relatif  mudah,  semudah membuat tempe daun singkong  yang bergizi dan lezat itu. Tempe daun singkong terdaftar di Ditjen HKI pada 2007 dengan nomor paten P00200700553.

(Prof Dr  Amri Bakhtiar guru besar Fakultas Farmasi Universitas Andalas)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s