Oleh-oleh Mudik Kampung Halaman Slawi, Tegal

Setelah beberapa tahun tidak mudik kekampung halaman dalam rangka lebaran karena alasan anak masih kecil ,praktis sudah kurang lebih 4 tahun tidak mudik. Tahun ini saya mudik ke kampung halaman bersama istri & anak yang sudah 2 tahun ke Slawi sebuah kota kecil di Tegal di bawah kaki gunung Slamet. Tempatnya industri Teh, dari sini juga teh Sosro mengawali langkah bisnisnya sehingga bisa menggurita seperti sekarang.

Mudik keampung halaman adalah kerinduan akan suasana kekeluargaan yang sangat kental dimana setiap penduduk satu desa saling kenal, saling tegur sapa. Dan keindahan alam pedesaan yang masih asri, hijau dengan bentangan sawah yang menghampar luas. Namun ketika saya pulang kaget bukan kepalang sejak kota Slawi dijadikan ibu kota kabupaten tegal 1996 ada sedikit yang berubah yaitu banyaknya sawah-sawah  produktif yang berubah fungsi menjadi perumahan dan town house .

Sawah-sawah itu semasa saya kecil adalah hamparan permadani yang sangat luas ribuan hektare menghampar dengan panorama indah gunung Slamet yang menjulang tinggi, hingga tak salah zaman saya kecil di zaman orde baru antar tahun 85-97 Indonesia bisa swasembada pangan, tidak perlu impor ribuan ton beras walaupun alat-alat pertanian belum semodern sekarang.

Ironis memang dengan menjadi sebuah ibu kota Kabupaten, kota Slawi seakan-akan disulap menjadi sebuah kota dengan banyak bangunan fisik disana-sini dan perumahan dengan mengorbankan lahan pertanian yang produktif  dan pemerintah daerah kab tegal tidak peduli dengan sistem pengairan yang dulu berfungsi normal dan bisa menanam 2 kali dalam setahun, tetapi sistem irigasi sekarang sengaja dibiarkan rusak dan mati. Sehingga petani menjerit dengan biaya yang cukup tinggi dalam bercocok tanam karena harus menggunakan diesel untuk mengairi sawahnya di musim kemarau  dan dengan keterpaksaanya  melego sawahnya ke developer properti untuk dibangun menjadi perumahan dan townhouse, karena sudah tidak prospektifnya kegiatan pertanian juga oleh gempuran produk-produk pertanian dan peternakan import yang dampak lingkunganya akan kita rasakan 10-20 tahun ke depan.

Makanya tak heran menteri pertanian ir. Suswono kolega bapak saya sejak kecil  SD-SMP yang asli kelahiran desa kalisapu menjadi miris dengan berubahnya fungsi lahan pertanian, beliau menghimbau kepada petani  untuk tidak menjual sawahnya dan diubah menjadi lahan properti saat acara halal bi halal di masjid Al Asraf desa Kalisapu. Namun beliau juga sebagai pemangku mentri pertanian  kurang tanggap dengan kondisi ini harusnya beliau mengucurkan KUT kepada petani dan kredit lainya  untuk petani dan peternak sapi dll sehingga kegiatan pertanian dan peternakan  tetap  aktif juga mendorong dihentikan import beras dan import sapi dari Australia sehingga petani dan peternak merasakan manfaatnya dari petani dan peternak. Akankah pepatah “ tikus mati dilumbung padi “ menjadi kenyataan karena berubahnya fungsi lahan pertanian dan peternakan menjadi lahan hunian dll.

Ini potret kecil dari sebuah kabupaten, jika secara nasional ini terjadi maka ini adalah kiamat bagi negara Indonesia yang katanya negara agraris. Kita hidup di khatulistiwa tapi kita import produk-produk pertanian, perkebunan dan peternakan dari negara-negara sub tropis semacam jepang, austarlia dan korea sungguh miris.

Ada lagi yang bakal membuat miris adalah perubahan kawasan wisata air panas guci yang potensi dengan geothermal ternyata telah dijual ke pihak asing oleh pemerintah daerah dan dibangun PLTP Guci 1×55 MW mencakup luas wilayah 14.360 hektar dengan potensi 79  MWe, Guci sebagai kawasan wisata yang menjadi sumber penghidupan bagi penduduk kecamatan bumi jawa dan sekitarnya. Sebenarnya bukan masalah terhadap PLTP Gucinya tapi adalah bagaimana dengan pembangunan PLTP tersebut tidak mematikan kawasan wisata air panas guci itu sendiri karena dampak sosialnya akan sangat besar. Berapa ribu orang bergantung ekonominya dengan kawasan wisaat Guci, eksploitasi energi geothermal juga tidak  mematikan sumber air panas guci, karena bila sumber air panas guci mati maka kawasan wisata guci juga akan mati. Karena sumer air panas inilah daya tarik kawasan wisata Guci itu sendiri yang menghidupi penduduk setempat juga villa-villa yang dibangun oleh pemodal-pemodal dari luar kota, juga pendapatan asli daerah dari sektor pariwisata.Dan perubahan kawasan wisata guci ke energi geothermal juga belum disosialisasikan ke warga oleh pemerindah daerah kabupaten tegal. Bukankah Tanah, air dan kandungan yang didalamnya adalah milik negara dan digunakan untuk kemaslahatan rakyat banyak yang merupakan amanat UUD 45, bukan dijual ke pihak asing. Tapi asing adalah boleh mengontrak dalam jangka waktu tertentu dan setelah itu PLTP Guci 1×55 MW harus menjadi milik pemerintah daerah sebagai BUMD yang keuntunganya untuk kesejahteraan rakyat kabupaten tegal.

Oleh-oleh mudik kampung halaman adalah mirisnya perubahan lahan pertanian dan eksploitasi geothermal yang tidak berpihak kepada rakyat tetapi lebih berpihak ke segelintir elite pemerintahan, sebagai putra daerah asli kabupaten tegal tentu prihatin dengan kondisi ini.Ayo putra-putra tegal yang sebagai dosen geofisika, dan di BMG serta lainya kita ikut peduli daerah kita dengan selalu mengingatkan pemerintah daerah agar jangan menggadaikan sumber daya alam kita dengan harga murah ke Asing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s