Kita belum Merdeka, Indonesiaku terbelenggu dan tergadai Neo Imperialisme.

Tidak perlu lagi memperingati kemerdekaan. Kita belum merdeka. Para politikus dan koruptor itu yang merdeka dengan hasil rampokan uang negara dan bancakan proyek.
Kepada beberapa kelompok anak muda, saya bertanya mengenai persiapan memperingati Proklamasi Kemerdekaan Ke-67. Sampai Sabtu, tidak tampak aktivitas seperti tahun-tahun sebelumnya, termasuk penyelenggaraan lomba dan rencana pentas seni. Dengan enteng mereka menjawab, “Tidak perlu lagi memperingati kemerdekaan. Kita belum merdeka. Para politikus dan koruptor itu yang merdeka. Mereka berkhianat kepada Proklamasi.

Saya tertegun. Jawaban itu terlalu dalam maknanya dan meluncur begitu saja dari anak-anak muda yang biasanya hanya berceloteh dan tertawa. Hampir setiap malam mereka memang bersentuhan tanpa batas dengan pedagang bakso keliling, nasi goreng, mi ayam, penjual jagung rebus, sopir taksi, dan lain-lain. Mereka mendengar semua keluhan khas rakyat itu dan mendapatkan kenyataan bahwa peri kehidupan mereka semakin berat dari hari ke hari.

Di sisi lain, berita di televisi, radio, koran, dan media online yang mengetengahkan perilaku bohong para politikus dan birokrat menembus ruang kesadaran mereka. Hati yang muda itu pun akhirnya mulai mengeras dan sarkastik.

Kerapuhan fondasi

Hanya merujuk pada gejala mikro tersebut, penulis berani mengukuhkan anggapan bahwa Republik saat ini sedang dalam keadaan bahaya. Gejala kekerasan fisik seperti revolusi….

Dalam ocehan kali ini, sebelumnya dari lubuk hati saya yang paling dalam sebagai rakyat jelata yang juga asli warga negara indonesia ingin mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia. Di Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-67 ini saya masih tetap berbangga hati masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk menghirup indahnya udara serta memandang semua yang ada dihadapan saya, di Negara Republik Indonesia. Apalagi, ultah Indonesia kali ini bertepatan dengan bulan yang sangat baik dan penuh berkah bulan puasa, tentunya saya (mungkin juga anda) merasakan kebahagiaan tersendiri dalam atmosfiryang berbeda ini.

Tapi, ini dia nih (ujung-ujungnya gak enak!), mungkin kita semua menyadari bahwa ternyata meskipun di atas kertas dan juga telah di-proklamirkan bahwa Republik indonesia telah merdeka, kita harus melihat jauh ke sekeliling terhadap apa yang ada dan sebenarnya terjadi di negeri kita sekarang ini. rakyat masih susah sejahtera, bahkan kedelai untuk membuat tempe diimpor dari asing sehingga kita tergantung dengan asing, pemerintah lebih pro asing karena mereka dapat fee  dengan masuknya barang-barang asing. sementara petani kita dan peternak kita dibiarkan mati. untuk apa kita bayar pajak fungsi pajak itu untuk menanggulangi  harga yang tinggi, mensubsidi  kebutuhan rakyat bukan buat dikorupsi dan bayar utang luar negeri yang rakyat tidak pernah merasakanya tapi rakyat diumpankan ke rentenir internasional.SDA alam habis dikuras oleh korporasi asing, papua dari gunung dibuat menjadi kawah emas dan perak habis dijarah kapitalis asing. Hutan lindung dibabat habis demi segepok uang bagi pemerintah daerah, rakyat hanya dapat akibatnya banjir bandang dan tanah longsor menerjang.

Kemiskinan masih menjadi teman serta penghias di setiap berita, korupsi masih menjadi darah  daging yang menggurita seakan menggerogoti trombosit niat baik, bendera arogan masih berkibar di setiap darah wakil kita, raut senyum orang-orang  disana masih sengaja mendikte kita satu persatu, sampai-sampai hari ini kita masih merasa kecil, mengecil, dan terus mengecil karena satu persatu perlahan mengaku-ngaku bahwa “itu milik saya…!!”, atau, “Halah, hantam. Mereka nggak akan berbuat apa-apa..!”. Yah.., itulah mungkin anggapan atau perkataan para tetangga yang sekarang telah kaya karena kekayaan kita (atau mungkin karena kebodohan kita?) sehingga malah kita yang justru miskin dan serba kekurangan dan akhirnya bagaikan tidak memiliki harga diri.

Well.., tau deh mau ngomong apa lagi nih. Meskipun sebagai seorang blogger yang selalu ngoceh nggak karuan, tapi saya menganggap ocehan saya kali ini agak sedikit berkualitas (narsis dikit) bila dibandingkan dengan ocehan sebelum-sebelumnya. Kenapa?!? Seperti kita lihat sekarang ini, mungkin anda sudah mengetahui tentang berita-berita yang membuat kita merasa panas dan terhina (nggak perlu dijelasin lagi apa itu), saya hanya ingin mewakili dari kurang lebih 234 juta jiwa di negeri ini mengatakan suatu hal yang terjadi saat ini.., “Maaf Malaysia, simpatik saya benar-benar sudah hilang padamu..”. Meskipun mungkin tulisan saya hanya menambah senyum sinis sumringah mu, tapi itu itulah perkataan diri saya yang cuma bisa saya tuangkan disini.

Ketika saya liat Reog Ponorogo, saya ingat kamu. Waktu saya pake batik, saya ingat kamu. Hingga waktu saya mendengar lagu sayonara atau lagu kebangsaaan Indonesia Raya, terkadang saya sedikit juga ada ingat kamu. Waktu saya makan rendang buatan mertua saya, saya gak lupa sama kamu. Apalagi kalau mendengar pulau Sipadan dan Ligitan, terkadang dengan perasaan terpaksa saya menganggap sudah milik kamu sekarang. Hufftt.., jadi ngantuk nih.

Saya akui, teknologi serta persenjataan saya belum sebanding denganmu. Tapi saya punya jiwa nasionalisme yang masih tertanam di setiap jiwa saudara-saudara saya semuanya disini, dan yang terpenting.., karena saya sangat yakin, “Bahwa cepat atau lambat Tuhan akan mengumumkan siapa yang benar, dan siapa yang salah kelak”.

Meskipun begitu ada detik ini, saya tetap berbangga menjadi Rakyat Indonesia, dan saya akan terus memupuk harapan besar untuk di masa yang akan datang.

Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia”. Di ultah yang ke-65 ini semoga kita akan tetap menjadi satu kedaulatan dan kesatuan untuk menjadi lebih baik, lebih baik, lebih baik, hingga yang terbaik. Kita harus segera sadar dan terbangun sejak Proklamasi 65 tahun lalu yang dibacakan oleh Bung Karno, karena sesungguhnya hingga saat ini kita masih belum merdeka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s