Tradisi Batik Tegalan, yang terlupakan

wisatawan jepang tertarik batik tegalan

Tak seperti saudaranya Batik Pekalongan, Solo, Yogyakarta, Lasem dan belakangan Madura, Batik Tegalan hingga hari ini masih belum dikenal luas publik. Padahal Batik Tegalan memiliki karakteristik yang khas, mulai dari filosofi, motif, corak dan warnanya, sehingga ia diidentifikasi sebagai ‘Batik Tegalan’ yang berbeda dengan batik-batik lainnya. Sejumlah pihak mulai mengkhawatirkan perkembangan Batik Tegalan yang semakin tenggelam padahal ia belum sempat berkembang pesat—setidaknya hingga keluar daerah. Peran pemerintah daerah masih terbilang minimal, karena itu perlu dilakukan langkah-langkah strategis agar Batik Tegalan dapat menyejajarkan dirinya dalam dunia perbatikan nasional.

Karakteristik

Secara umum karakteristik batik di Indonesia dapat dibedakan melalui filosofi, motif, corak dan warnanya. Sejarah Batik Tegalan dimulai dari Kraton Mataram, ketika kraton pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) menciptakan batik motif kawung, yang menjadi cikal motif batik kratonan. Pada masa Amangkurat I (1645-1674) yang melarikan diri hingga ke Tegal akibat Perang Trunojoyo (1674), motif batik kraton mulai dikenal masyarakat Tegal.

sogan , babaran abu

Hingga akhir abad XIX, Batik Tegalan banyak dipengaruhi oleh karakteristik batik Mataraman. Meski demikian, pengrajin Batik Tegalan telah mampu memanfaatkan buah pace (mengkudu), nila, soga kayu sebagai pewarna batik dan menenun sendiri kainnya. Ketika akhir abad XIX pengrajin Batik Tegalan mulai berkenalan dengan mori dan pewarna impor, mereka memperolehnya dari pedagang Cina di Pekalongan.

Baru pada masa Bupati Tegal RMA Ario Reksonegoro (1908-1936), oleh istrinya R.A. Kardinah—saudara R.A. Kartini, Batik Tegalan memperoleh pengayaan corak dan motif dari Batik Lasem, batik yang juga populer di kawasan Jepara daerah kelahiran Kardinah. Semenjak itu corak Batik Tegalan yang sebelumnya berwarna kecoklatan (sogan) dan hijau, mulai mengenal warna-warna terang seperti merah menyala atau biru, dan berhias motif flora serta fauna. Warna-warna yang tegas hendak menggambarkan karakteristik masyarakat Tegal sebagai masyarakat pesisiran yang terbuka, tegas dan lugas.

Dalam perkembangannya, Batik Tegalan dapat dibedakan dalam dua motif dasar, yakni motif klasik dan motif pengembangan. Motif klasik dibedakan lagi menjadi dua macam, yakni motif klasik irengan yang didominasi warna hitam, coklat dan biru serta motif klasik bangjo yang dipengaruhi tradisi Batik Lasem yang didominasi warna kuning, coklat, merah, hijau dan biru. Motif yang dikategorikan sebagai motif klasik irengan diantaranya motif gribikan, jahe-jahenan, kawung mlinjo, sidomukti ukel, udan liris, ukel wit-witan, kopi pecah, parang, parang angkik, putihan, sawat candra atau sawat ireng, rujak sente, welut gumbel, kecubungan, buntat, kawung endog, manggaran, cempaka putih, cempaka mulya, ukel pyur, semut runtung, serta sidomukti putihan. Sedang motif yang termasuk motif klasik bangjo adalah motif wadas gempal, jamblangan, gribikan, kawungjenggot, cecek kawe, unian, sokaraja, blarakan, kopi pecah, gribikan, galaran, buntut bajing, semut runtung, beras mawur, tumbar bolong, dan tambangan.

Motif Pengembangan merupakan motif yang dipengaruhi tradisi batik lain dalam pembuatan Batik Tegalan. Meski demikian modifikasi Motif Pengembangan ini tidak mengubah karakteristik Batik Tegalan dengan warna-warna terang dan motif flora fauna yang banyak ditemui di Tegal. Motif Pengembangan ini diantaranya motif gedong kosong, manuk emprit, sotong, manuk surwiti, kipas-kipasan, juga kembang kertas.

Tak Perlu Hak Cipta?

Produksi Batik Tegalan umumnya dilakukan masyarakat secara kecil-kecilan dalam industri rumah tangga. Jumlah produksi pun biasanya didasarkan pada pesanan. Kapasitas produksi yang terbatas, disamping popularitasnya yang belum massif membuat Batik Tegalan baru beredar pada pasar lokal dan regional serta penjualan secara perorangan.

Pemerintah daerah dapat melakukan intervensi dengan memfasilitasi terbangunnya ‘pasar batik’, semisal melalui pameran; pemanfaatan batik sebagai pakaian dinas hari tertentu melalui skema belanja pemerintah (government expenditure); fasilitasi usaha antara pengrajin, pengrajin pengepul, dan buruh pengrajin dalam skema program kemitraan inti-plasma; hingga fasilitasi teknologi dan manajemen usaha melibatkan lembaga pendidikan lokal, seperti Sekolah Menengah Kejuruan rumpun kerajinan yang ada di Kecamatan Adiwerna; termasuk fasilitasi hak cipta Batik Tegalan. Terdapat realitas menarik ketika pemerintah daerah menjajaki fasilitasi pendaftaran hak cipta Batik Tegalan, justru muncul ‘penolakan’ dari pengrajin. Mereka beranggapan ‘kebutuhan’ pengrajin mendesak saat ini bukanlah hak cipta, melainkan kebutuhan subsistensi produksi seperti yang telah disebut di muka. Kondisi ini kiranya menggambarkan jangkauan persepsi kebutuhan antarpemangku kepentingan Batik Tegalan yang perlu didiskusikan secara estafet agar Batik Tegalan dapat dijaga tradisinya di tengah-tengah masyarakat, khususnya masyarakat Tegal.

para perajin batik di Kota Tegal telah menggeluti batik secara turun-temurun. Adapun, corak batik yang hingga kini dikembangkan antara lain, corak beras mawur, tapak kebo dan dapur ngebul.”Berbagai corak batik tersebut merupakan murni hasil karya para perajin batik Kota Tegal,

Febrie Hastiyanto; Anggota Tim Teknis Penyusunan Data Base Kabudayaan Kabupaten Tegal, Bekerja pada Bappeda Kabupaten Tegal.

Dimuat dalam Antologi Kabupaten Tegal: Mimpi, Perspektif dan Harapan (Pemkab Tegal dan Media Post Advertising, 2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s