Gunung yang harumkan buah naga, Hasil panen hanya dijual di pasar tradisional

Bisnis Indonesi.com

Percaya atau tidak, ternyata ada konsumen buah-buahan lokal terbang khusus dari Singapurake Yogyakarta hanya untuk membeli pepaya produk Sabila Farm yang berbasis di Kaliurang, Yogyakarta.

Konsumen yang sama akan kembali ke Yogyakarta setelah stoknya habis dan momen seperti itu akan terus berulang, padahal volume pepaya yang setiap kali dibawa ke Singapura dalam jumlah besar.

“Sekali waktu saya bertanya mengapa harus terbang ke Yogyakarta hanya untuk membeli buah pepaya. Jawabannya,kepuasan dan kenikmatan buah terbaik tidak bisa diukur dengan nilai uang. Itulah arti jawaban konsumen saya ketika itu,” tutur M. Gunung Soetopo kepadaBisnis, kemarin. Itu adalah sekelumit kisah baru yang dialami Gun Soetopo pada saat ini. Terdengar klise ketika dia mengungkapkan keresahannya melihat Indonesia hanya menjadi pasar bagi berbagai komoditas asing, apalagi buah-buhan segar.

Saat itu, dia mengaku tidak mampu berbuat apa-apa karena ketika itu statusnya hanya sebagai pegawai negeri sipil. Gun tercatat sebagai PNS di Departemen Pekerjaan Umum Pusat yang saat ini berganti menjadi Kementerian Pekerjaan Umum di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan pada 1982-1985.

Pada saat itu, dia lebih sering merenungi pasar domestik yang terus menjadi target pasar asing. Tidak hanya untuk komoditas pertanian, tetapi juga untuk berbagai sektor lain yang menjadi kebutuhan primer rakyat Indonesia yang jumlahnya ratusan juta jiwa.

Tidak tahan menyaksikan derasnya arus masuk komoditas buah-buahan dan hortikultura dari negara lain Gun memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisinya sebagai abdi negara yang telah dijalaninya dalam tempo 3 tahun.

“Sejak itu saya mulai berkonsentrasi membudidayakan tanaman buah-buahan dan hortikultura. Khususnya buah naga,” tutur alumni Jurusan Ilmu-Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor tersebut.Hingga 2002, dia mampu menghasilkan berbagai komoditas buah dan hortikultura di kawasan Depok, Jawa Barat.Namun, Gun tidak bertahan lama di daerah itu dan setahun kemudian kembali ke daerah asalnya di Jawa Tengah.

Pria kelahiran Sragen ini menetap di Pakem, Yogyakarta dan membuka lahan pertanian yang diberi nama Sabila Farm di Jalan Kaliurang Desa Pakembinangun. Luas area budi daya berbagai komoditas termasuk tanaman unggulannya buah naga 6,5 hektare.Alasan Gun fokus pada budidaya buah naga adalah pertimbangan ekonomis. Sejak muncul putik atau calon buah hanya perlu menunggu 30 hari untuk dipanen. Alasan kedua, semua tipe tanah bisa dijadikan lahan budi daya buah tersebut.

Gun berkonsentrasi agar setiap lahan bisa mendapat sumber matahari yang panjang untuk menghasilkan buah dengan kualitas prima. Oleh karena itu yang menjadi pertimbangan utama penentuan lahan budi daya buah naga sinar matahari. Untuk panen pertama sejak penanaman, buah naga hanya membutuhkan waktu setahun.

Dengan metodologi tanam yang dilakukannya secara otodidak, ternyata mampu menghasilkan produk berkualitas prima.Soal kualitas buah naga hasil tanam Pakde Gun, begitu biasa dia dipanggil, berani diuji dengan produk impor termasuk mengadu kualitas rasa, ukuran, dan rasa manis. “Setahu saya buah naga terbesar impor hanya sekitar 5 ons dan hasil per kebunan saya bisa mencapai 7 ons,” katanya. Itu baru cerita dari kisah bobot, belum dari kualitas rasa dan warna. Dia mengklaim produksinya tidak akan pernah bisa ditandingi buah impor dari negara manapun. Umumnya warna buah naga adalah pink dan merah. Buah naga hasil perkebunan Pakde Gun lebih khas, berwarna magenta.

Hal yang patut menjadi tauladan dari kisah sukses pria ini, dia tidak ingin menikmati kesuksesan secara pribadi. Atas inisiatif sendiri, Pakde Gun senang mengunjungi berbagai kota dan provinsi untuk mengembangkan pola tanam buah naga.Biaya membagi ilmu itu ditambal dari kantong pribadi tanpa pernah mewajibkan kepada yang memintanya melakukan sharing.

Hal yang lebih unik lagi, pemasaran buah naga hasil perkebunan sendiri dan mitranya tidak pernah dilakukan di minimarket modern. Alasannya, dia tidak berkenan menjual buah naga di gerai-gerai toko modern.“Saya ingin membuktikan buah lokal lebih baik dibandingkan buah impor. Khususnya buah naga. Kepada siapa saya harus membuktikan itu? Tentu saja kepada masyarakat Indonesia. Oleh karena itu saya hanya menjual buah naga di pasar-pasar,” katanya.Melalui sistem pemasaranseperti itu, Gun ingin memberi pemahaman kepada masyarakat agar jangan terlalu silau denganproduk impor terutama buah-buahan yang terus menghimpit peredaran produk buah lokal.

Melalui kampanye mengonsumsi buah lokal, target utamanya agar masyarakat memahami bahwa impor tidak selalu lebih baik dibandingkan produksi dalam negeri ditengarai buah-buah impor memakai zat pengawet. Sebagai perbandingan, buah pepaya yang juga menjadi salah satu komoditas andalannya, harganya jauh lebih mahal dibandingkan buah sejenis dari mana pun.

Buah pepaya secara umum mugkin dijual hanya sekitar Rp2.000 per kilogram, sedangkan pepaya yang dibudidayakanPakde Gun mencapai Rp10.000 per kilogramnya. “Apa keistimewaannya, coba saja rasakan,” katanya membuat penasaran.

Buah impor

Kepiawaian membudidayakan berbagai buah dengan kualitas nomor satu itu membuat Gun didaulat menjadi Ketua Asosiasi Buah Naga Indonesia. Posisi itu juga dimanfaatkan untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia berwirausaha melalui budi daya buah naga. Gun yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Hortikultura Nasional tersebut menyatakan jika produk buah lokal bisa menguasai pasar dalam negeri, maka senilai Rp7,3 triliun per tahun menjadi kontribusi kepada negara dari sektor industri buah-buahan dan hortikultura.

Nilai tersebut merupakan total impor jenis komoditas buahbuahan dari luar berbagai negara ke Indonesia pada tahun lalu. Dan setiap tahun terjadi peningkatan sekitar 10%, sehingga negara-negara pengekspor itu akan terus berupaya menjadikan Indonesia sebagai pasar potensialnya.

Ketika produk buah lokal hendak dijadikan sebagai komoditas pasar nasional, selalu saja ada alasan bahwa tidak mencukupi dan memadai kapasitasnya. Belum lagi muncul alasan lain bahwa kualitas produk lokal buruk.Dia memperhitungkan saat ini sedikitnya ada puluhan peraturan yang menghambat pertumbuhan pasar buah nasional. Akibatnya, berdampak positif bagi produk buah impor dan menghimpit buah lokal dari sisi pemasaran maupun alasan kualitas.

Kesulitan buah lokal akan bertambah apabila dikaitkan dengan fasilitas infrastruktur transportasi nasional. Ketika buah lokal sampai di pasar, maka nilai jualnya akan lebih tinggi dibandingkan buah impor. Konsumen nasional, menurutnya,sudah cerdas untuk membedakan antara buah yang berkualitas dan tidak. Namun ada indikasi pemahaman yang benar tentang buah-buah segar tidak disampaikan secara benar. Akibatnya, mereka juga terpaksa

mengonsumsi buah impor. (ginting.munthe@bisnis.co.id)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s