Perlukah studi kelayakan Bisnis buat usaha

Bagi orang awam atau orang yang baru memulai usaha tentu akan asing apa itu studi kelayakan bisnis, ibarat mobil  adalah studi kelayakan jalan. Jadi jika kita mau berwirausaha dan sudah menentukan bisnis apa yang akan kita lakukan harus dilihat apakah layak untuk dijalankan atau tidak. Dari sistu kita melihat potensi kerugian di depan atau faktor hambatan yang akan muncul dalam suatu bisnis tersebut. Padahal bagi sebagaian orang memulai bisnis tidak memerlukan studi kelayakan bisnis toh banyak juga yang berhasil dan tumbuh menjadi besar, bahkan yang memakai studi kelayakan bisnis malah belum  tentu bisa langgeng dan besar.Jadi sebenarnya ada dua aliran Main stream dalam memulai usaha tergantung kita mau ambil yang mana toh dua-duanya punya potensi keberhasilan dan kegagalan.

Perlu tidaknya studi kelayakan bisnis sebelum memulai usaha adalah pilihan, bisa ya bisa tidak tergantung kemampuan seseorang dalam hal analisa suatu bisnis itu sendiri karena tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menganalisa suatu bisnis, bahkan bagi kebanyakan pelaku UKM bukan suatu hal yang urgent yang penting action pasti akan ketemu jawabanya di depan perlu tidaknya studi kelayakan bisnis. Ada sebagian orang yang telah berpengalaman dalam wirausaha menjawab bahwa studi kelayakan bisnis itu perlu dan wajib.

Banyak literatur telah membahas mengenai definisi, tujuan, manfaat dan langkah-langkah studi kelayakan bisnis. Bahkan sekarang program online pun telah tersedia  untuk memudahkan para calon enterpreneur. Hal ini berkaitan juga dengan pola dan tabiat suatu bangsa karena  kita sejak kecil tidak dididik untuk menganalisa dan merencanakan sesuatu.Namun sesungguhnya studi  kelayakan bisnis bukan lagi hal yang sulit dilakukan.

Namun demikian, fakta menunjukan hal berbeda. Hanya sedikit calon enterpreneur yang melakukan studi kelayakan bisnis sebelum memulai usahanya. Ada berbagai alasan seorang calon enterpreneur memilih tidak melakukan studi kelayakan bisnis . salah satu alasanya karena kesulitan dalam mengumpulkan segala informasi yang diperlukan atau tidak punya pengetahuan yang mencukupi untuk melakukan studi kelayakan bisnis, Bahkan kebanyakan  menyerahkan  ke konsultan.

Karena, faktanya memang tidak semua informasi yang diperlukan tersedia secara bebas dan tidak punya akses ke informasi tersebut, hal ini memaksa calon enterpreneur  membuat berbagai asumsi mengenai keadaan yang tidak pasti di masa yang akan datang  tapi bila kita bergabung dalam komunitas bisnis akses informasi tersebut bisa kita dapatkan bisa melalui teman komunitas, pelatihan atau training yang diadakan suatu komunitas bisnis.

Lantas, apa saja yang mendasari pembuatan asumsi-asumsi itu? Membangun studi kelayakan bisnis bukan lagi proses yang jelas  dan pasti dalam memprediksi kesuksesan suatu bisnis.Membangun studi kelayakan bisnis juga tidak mudah untuk dilakukan oleh enterpreneur pemula, melakukan studi kelayakan bisnis itu perlu namun sulit dilakukan.

Mungkin kita perlu melihat fakta lain yang menunjukan banyaknya enterpreneur yang sukses menjalankan bisnisnya tanpa diawali oleh rasionalitas suatu studi kelayakan bisnis tapi dibangun karena keuletan dan learning by doing. Sehingga selalu optimis dan tanpa patah arang bila mengalami hambatan.Sebuah bisnis yang sukses justru dimulai  dari suatu kegemaran atau karena sering terlibat dalam bidang tertentu dan menyukainya istilah kerenya “Passion”. Dengan memulai bisnis dari hal-hal yang disuka maka sesorang akan memiliki passion terhadap bisnis tersebut, banyak  bisnis yang berhasil karena Hobi atau karena kepepet tidak ada yang bisa dilakukan selain hal tersebut sebagai contoh tukang bakso yang sukses membangun bisnis baksonya dan masih banyak contoh lainya.

Seorang calon enterpreneur yang memulai bisnisnya dengan membuat studi kelayakan bisnis memang akan lebih peduli dengan bisnis yang akan dijalani. Dalam beberapa kasus, setelah membuat studi kelayakan terutama setelah membuat proyeksi keuangan seorang calon enterpreneur  akan mengetahui bahwa bisnisnya tidak akan terlalu sukses dan dia akan menghadapi  suatu resiko yang besar dari suatu enterpreneurial ventures.

Ingat studi kelayakan bisnis dibangun atas dasar beberapa asumsi yang mungkin saja tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Tetapi, jika kita memulai  dengan suatu rasionalitas yang kita temukan dalam hasil studi kelayakan bisnis, maka hampir dapat dipastikan kita tidak akan memulai bisnis sama sekali.

Karena resiko suatu enterpreneurial ventures sangatlah tinggi, maka dengan segala pertimbangan resiko itu sangatlah besar kemungkinan seseorang mengurunkan niatnya untuk memulai usaha, yang justru seharusnya itu dijadikan patokan agar hasil studi kelayakan bisnis itu dijadikan bahan untuk mengatur strategi dan tindakan-tindakan yang terukur ketika kita menjalani bisnis tersebut. Karena Dibalik resiko yang besar terselip juga potensi keuntungan dan keberhasilan yang besar pula, jadi studi kelayakan bisnis digunakan sebagai tools untuk menentukan lagkah selanjutnya ibarat Perang jangan pulang sebelum berperang dan kita mengadu taktik dan strategi perang tersebut.” Kalah itu hal biasa yang luar biasa adalah memenangi perang tersebut”.

Pandangan Visioner

Keberanian mengambil resiko adalah salah satu karakter utama jiwa enterpreneur yang jauh dari zona kenyamanan. Tidak cukup hanya itu saja, seseorang enterpreneur bisa dikatakan sukses dalam bisnisnya jika bisnis yang dilakukannya mengalami pertumbuhan. Karena pertumbuhan itu membutuhkan seorang enterpreneur dalam hal kreativitas, inovasi dalam segala hal yang berkaitan dengan bisnis tersebut.Passion selalu terjaga dan terus terpelihara sejak bisnis itu dimulai akan membantu seorang enterpreneur dalam menggali kreativitasnya.

Kreativitas seorang enterpreneur berbeda dengan kreativitas seorang seniman atau budayawan yang berkreasi mencari ide.Tetapi seorang enterpreneur selalu kreatif mengeksplorasi produknya dan tantangan yang dihadapi oleh produknya agar bisa diterima oleh pasar dan menjadi pemimpin pasar. Dengan demikian, bisnisnya akan terus berkembang bahkan menurunkan anak bisnis lainya dari produk tersebut.

Enterpreneur yang sukses selalu mengusahakan bisnisnya agar terus tumbuh dan berkembang ditengah persaingan yang semakin ketat sehingga tidak mati dilindas oleh kompetitor. Pada awalnya, seorang enterpreneur yang memulai usaha tidak akan menyangka atau mengantisipasi bahwa suatu saat bisnisnya akan maju dan berkembang pesat melebihi kemampuan kontrolnya. Strategi perlu diubah ketika bisnis mulai besar, pelayan konsumen harus selalu diperbaiki agar konsumen loyal tidak lari ke kompetitor dan sang enterpreneur bukan lagi satu-satunya pembuat keputusan karena sudah memerlukan orang lain untuk menangani bisnisnya.

Fokus utama seorang enterpreneur yang semula hanya pada kegiatan operasional sehari-hari perlu diubah menjadi suatu pandangan visioner yang fokus pada tujuan jangka panjang bukan sekedar untung rugi dan lakunya produk bisnisnya.Maka saat itulah seorang enterpreneur perlu memikirkan untuk mulai menggunakan instrumen analisis yang ada dalam manajemen strategi termasuk didalamnya adalah studi kelayakan bisnis. Jadi jangan ragu untuk menjadi seorang enterpreneur, sambil menjadi karyawan pun bisa asal bisa membagi waktunya dan bila sudah besar bisnisnya dan membutuhkan perhatian lebih pelan-pelan kita melepas status karyawan menjadi seorang enterpreneur sejati. “ Monyet aja bisa cari makan buat dirinya dan Tuanya, kenapa manusia tidak?” sebuah sindirian yang dipopulerkan seorang praktisi bisnis dan motivator bisnis Jay The Terorist.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s