Bandung, bukan sekedar Paris Van Java

Jl.Asia Afrika tempo doeloe

Kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.

Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.

R.A. Wiranatakusumah II atau yang sering dijuluki “Dalem Kaum I” adalah seorang bupati untuk kabupaten Bandung yang keenam. Ia menjadi bupati sejak tahun 1794 hingga tahun 1829. Dalam pandangan masyarakat pribumi, ia adalah “Bapak Pendiri Kota Bandung”. Ia pun juga termasuk seorang bupati Bandung yang pada masa kolonial kepemimpinan dan kinerjanya cukup menonjol selain R.A. Wiranatakusumah IV (18461874), R.A. Kusumadilaga (18741893), dan R.A.A. Martanagara (18931918).

Ketika kabupaten Bandung dipimpin olehnya, kekuasaan di Nusantara yang awalnya dikuasai VOC diambil alih ke pemerintahan Hindia Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (18081811).

Untuk kelancaran menjalankan tugasnya di Jawa, Daendels pun membangun sebuah Jalan Raya Pos dari Anyer ke Panarukan (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing. Di daerah Bandung, jalan tersebut mulai dibangun pada pertengahan tahun 1808 dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels (dengan melalui surat) pada tanggal 25 Mei 1810 meminta bupati Bandung dan bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari). Rupanya Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan.

Hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti berapa lama kota Bandung dibangun. Akan tetapi, kota itu dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri kota Bandung. Kota Bandung diresmikan sebagai ibukota baru Kabupaten Bandung dengan surat keputusan tanggal 25 September 1810.

Bandung Kota Industri kreatif dan Pendidikan

Bandung Kota Kreatif

BANDUNG,  – Sebagai kota yang dihuni sekitar 60 persen kalangan muda berusia di bawah 40 tahun dan tempat berkembangnya banyak peguruan ti nggi, industri kreatif di Kota Bandung bertumbuh pesat. Melihat potensi industri kreatif Bandung yang menjanjikan, British Council menunjuk Kota Bandung sebagai salah satu kota kreatif di wilayah Asia Pasific.

Dalam rangka memperkenalkan industri kreatif Bandung di dunia internasional, Pemerintah Kota Bandung bekerjasama dengan British Council, Bandung Creative City Forum, serta Forum Event Bandung di sepanjang bulan Agustus akan menyelenggarakan Helar Festival, Bandung Creative Month yang terdiri dari 25 acara kreatif bertaraf internasional. Demikian diungkapkan aktivis Bandung Creative City Ridwan Kamil, Selasa (27/5) di Bandung.

Dalam acara tersebut, berbagai acara kreatif akan diselenggarakan, antara lain pameran karya seni rupa, open house galeri, pameran distro, opera di hutan, serta pameran galeri barang bekas di bawah jembatan, ungkap Ridwan.

Programmer dan Public Relation Eksternal Forum Event Bandung Wawan Djuanda menambahkan, berbagai pelaku bisnis kreatif dari berbagai negara, seperti Taiwan, Thailand, Singapura, India, Inggris, dan Australia akan turus serta dalam acara tersebut. D engan acara ini, Kota Bandung diharapkan memiliki jaringan bisnis ekonomi kreatif dengan berbagai kota-kota penghasil industri kreatif di dunia.

SIAPA sangka, Kota Bandung akan menjadi titik sentral pada perkembangan ekonomi masa depan yang berbasis industri kreatif. Setidaknya, tak hanya menjadi barometer bagi kawasan Indonesia, tetapi juga kawasan Asia Timur.
Hal tersebut berawal dari pertemuan internasional kota berbasis ekonomi kreatif, yang dilaksanakan di Yokohama Jepang pada akhir Juli 2007. Pada pertemuan itu, Bandung memperoleh penghargaan sekaligus tantangan, dengan terpilih sebagai projek rintisan (pilot project) kota kreatif se-Asia Timur.
Pemilihan Bandung sebagai kota percontohan bukanlah tanpa alasan, mengingat dalam 10 tahun terakhir, industri kreatif di Bandung menunjukkan perkembangan signifikan dan memengaruhi tren anak muda di berbagai kota.
Perkembangan tersebut menjadi daya tarik bagi para pelaku ekonomi kreatif di dunia, sehingga melalui projek percontohan ini, Bandung diharapkan mampu memopulerkan semangat kota kreatif di dunia global.
Projek yang bernama “Bandung Creative City” (BCC) itu direncanakan berjalan selama tiga tahun mulai Agustus 2008. “Rencananya, pada bulan Agustus nanti kota ini akan dikunjungi 140 pelaku ekonomi kreatif dari berbagai negara,” ujar Ridwan Kamil, salah seorang perancang BCC pada Bandung Creative City Workshop di Auditorium Rosada Balai Kota Bandung, Jumat (2/5).
Ia menjelaskan, untuk mempersiapkan BCC sekaligus kedatangan para pelaku ekonomi kreatif tersebut, Kota Bandung perlu berbenah diri dan menggali seluruh potensi yang dimiliki.
“Pada dasarnya, Bandung bisa diklaim sebagai kota yang sudah memiliki banyak potensi dan paling siap dalam merespons gelombang ekonomi,” ujarnya.
Hal ini karena potensi yang dimiliki Bandung belum tergali secara maksimal. “Talenta muda yang berlimpah, jumlah perguruan tinggi yang mencapai 5o, kemudahan mengakses teknologi, dan karakteristik masyarakat yang terbuka akan perbedaan dan perubahan, mampu memacu dan mendukung generasi mudanya untuk lebih berkreasi dan terjun ke dunia usaha,” tutur Ridwan.
Hanya, menurut dia, saat ini belum ada langkah strategis dan politis dari pemerintah kota untuk menjadikan Bandung sebagai pemain utama dalam persaingan global di sektor ekonomi kreatif. “Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan penuh dari pemkot, seperti pemberian izin menyelenggarakan acara dan penyediaan creative center yang bisa difungsikan untuk mendukung kreativitas kota ini,” katanya.
Selain itu, Ridwan juga mengatakan, diperlukan ruang publik dan infrastruktur fisik kota yang berkualitas. “Perencanaan dan perancangan kota yang inovatif dan responsif akan menjadi peluang pembangunan ekonomi,” ucapnya.
Hal ini direspons positif Wali Kota Bandung Dada Rosada yang mengatakan, untuk saat ini yang diperlukan adalah implementasi dan tindakan nyata. Bukan sekadar usulan atau berhenti pada tataran konsep. Oleh karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung akan mengeluarkan Surat Keputusan Wali Kota mengenai pembentukan tim yang menangani projek BCC.

Industri Sepatu Cibaduyut

BERBICARA mengenai produk sepatu di Kota Bandung, satu nama pasti terbersit di benak setiap orang: Cibaduyut. Kawasan seluas 14 Km persegi yang berjarak sekitar 5 kilometer di selatan pusat Kota Bandung itu memang sejak lama dikenal sebagai “Surga Sepatu”. Di kawasan yang termasuk wilayah Kec.Bojongloa Kidul tersebut, pengunjung bisa menemukan beranekaragam barang yang terbuat dari kulit. Tak hanya sepatu, tetapi juga sandal, tas, dompet, hingga barang lainnya. Cibaduyut, bahkan, sudah terkenal hingga ke luar negeri.

Industri sepatu Cibaduyut bermula pada tahun 1920-an dan dirintis oleh beberapa warga setempat yang sehari-harinya bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Kota Bandung. Dengan bekal keterampilan dan tekad, mereka kemudian mulai membuka usaha kecil di rumah tangga dengan tenaga kerja putra-putri mereka sendiri. Setelah pesanan semakin banyak, mereka kemudian merekrut pekerja dari tetangga sekitar rumah. Akhirnya, keterampilan mereka terus menyebar secara turun temurun. Warga sekitar pun ikut membuka usaha yang sama pada tahun 1940, sebelum Jepang menjajah negeri. Saat itu, jumlah pengrajin sepatu Cibaduyut mencapai 89 orang.

Satu dekade berikutnya, jumlah pengrajin terus bertambah dan tidak sedikit di antaranya yang menjadi pengusaha sepatu skala kecil. Pada masa ini, mulai sentra sepatu Cibaduyut mulai terbentuk dengan jumlah usaha sekitar 250 unit. Di saat itu pula, para pengrajin dan pengusaha mulai merasakan peningkatan kebutuhan pengadaan bahan baku kulit yang harus diimpor dari luar negeri. Para pelaku usaha di Cibaduyut membentuk sebuah wadah bernama Gabungan Pengusaha Sepatu Desa Bojongloa (GPSB) guna mempermudah akses impor bahan baku kulit. Atas kesepakatan bersama, GPSB kemudian berganti nama menjadi Koperasi Perkulitan dan Sepatu Indonesia (KOPSI) dengan jumlah anggota mencapai 120 pengusaha/pengrajin.

Pada tahun 1977/1978, sentra industri sepatu Cibaduyut mulai mendapat perhatian dari pemerintah pusat, melalui Departemen Perindustrian dan Lembaga Penelitian Pendidikan, Penerangan, Ekonomi, dan Sosial (LP3ES). Perhatian itu ditunjukkan berupa pembangunan Unit Pelayanan Teknis (UPT). Pada 1989, dibangun wartel di UPT agar pengrajin lebih mudah berkomunikasi dengan pemasok bahan baku dan memperlancar pemesan dari luar kota dan luar provinsi.
Untuk membantu pelayanan distribusi, pada tahun 1990-an, Departemen Perdagangan bekerja sama dengan PT Pos Indonesia. Lewat jalur ini, pengrajin dan pengusaha mendapat kemudahan dalam pengiriman pesanan sepatu ke luar daerah. Di masa ini, wilayah kerja pengrajin kemudian meluas sampai ke Desa Sukamenak dan Desa Cangkuang, wilayah Kab. Bandung.
Setelah terbentuk otonomi daerah pada 2001 , Kanwil Depperindag menyerahkan sepenuhnya kewenangan dan aset pada Pemprov Jabar, termasuk UPT. Berdasarkan Keputusan Gubernur Jabar Nomor 33 Tahun 2003, UPT pun berubah nama menjadi Instalasi Pengembangan Industri Kecil Menengah (IKM) Persepatuan. Dengan perkembangan yang terus terjadi, berbagai industri pendukung seperti showroom/outlet, pusat perdagangan, toko penjual bahan, dan toko pendukung lain juga tumbuh di kawasan ini.

Berdasarkan data dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perindustrian Perdagangan (KUKM Perindag) Kota Bandung, jumlah usaha di sentra sepatu Cibaduyut pada 2007 mencapai 845 unit yang menyerap sekitar 3.556 tenaga kerja. Investasi yang tertanam di sentra ini, diperkirakan, mencapai Rp 23,72 miliar dengan kapasitas produksi lebih dari 4 juta pasang/tahun.
Sementara itu, industri pendukung yang ada meliputi 152 unit showroom/outlet, 4 pusat perdagangan, 38 toko bahan baku dan bahan penolong, 8 industri shoelast/acuan kasar, tiga industri peralatan dan sparepart, 15 industri kemasan, dan lima unit industri sol karet.
**
DI balik kemajuan yang selama ini diraih, rupanya, Cibaduyut menyimpan beberapa masalah yang patut mendapat perhatian. “Ada dua masalah utama yang dihadapi para pelaku usaha di sini, permodalan dan infrastruktur,” kata Drs. Odang Koswara dari Instalasi Pengembangan IKM Persepatuan Cibaduyut.
Menurut dia, permodalan memang menjadi masalah umum dalam setiap usaha. Untuk meningkatkan kapasitas produksi, sehingga dapat memenuhi permintaan, IMK selalu terbentur masalah modal. “Bagi mereka yang punya agunan tidak masalah. Tapi, bagi para pengusaha kecil, ketidaktersediaan agunan menjadi kendala akses pinjaman modal dari bank,” katanya.
Lebih jauh, ujar Odang, keterbatasan modal unit usaha skala kecil di sentra sepatu Cibaduyut berimbas pada kurang baiknya penataan display produk. “Kebanyakan, toko kecil memajang produk sepatu mereka di atas tumpukan dus bekas yang diikat tali plastik. Ini jelas kurang enak dipandang, apalagi dus yang ditumpuk sering kali sudah luntur dan penyok. Tentunya, display seperti itu kurang menarik minat konsumen. Padahal, dari segi kualitas, mereka belum tentu kalah dengan produk di toko besar,” ujarnya menjelaskan.

Akibat keterbatasan modal untuk volume produksi dan biaya penataan display, industri skala rumah tangga, selama ini, masih harus bergantung kepada pengusaha yang lebih besar. Untuk pasar lokal, produk dari industri rumahan lebih banyak dititipkan di toko besar yang ada di kawasan cibaduyut sendiri. “Di sini kita mengenal istilah ’champion’ untuk pengusaha dengan modal besar,” kata Odang.
Di sentra sepatu Cibaduyut, tutur Odang, ada tiga ’champion’ yang membina lebih dari 300 unit usaha kecil. “Setiap ’champion’ memiliki brand sendiri. Para mitra menjual produknya ke ’champion’ untuk dijual dengan brand mereka. Dalam hal ini, ’champion’ memberikan syarat mutu tertentu pada para mitra. Setiap tahun, mitra mengajukan desain ke ’champion’ dan, yang lolos seleksi, diproduksi massal. Sebagai timbal balik, ’champion’ memberikan pembinaan skill pada mitra, dibantu Disperindag Jabar,” ujar Odang menjelaskan.

Kendati demikian, saat ini, muncul masalah baru, yaitu kenaikan harga bahan baku kulit –baik lokal maupun impor– seiring kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), beberapa waktu lalu. “Meski harga BBM kemudian turun lagi, harga bahan baku ternyata tidak ikut turun. Alhasil, harga jual menjadi lebih tinggi dan omzet rata-rata pelaku usaha menurun hingga 10 persen. Ini dirasakan baik oleh mitra maupun ’champion’ sendiri,” tuturnya.

Mengenai infrastruktur, Odang menggarisbawahi jalan yang kurang lebar, sehingga timbul kemacetan setiap jam masuk dan pulang kerja/sekolah. “Selain itu, drainase kurang baik menyebabkan jalan selalu tergenang. Setiap hujan cukup besar, bisa terjadi banjir cileuncang dengan ketinggian air mencapai 50 cm,” ujarnya
Menurut dia, sarana parkir yang belum memadai juga menjadi kendala tersendiri. “Saat ini, hanya toko-toko besar yang sudah memiliki lahan parkir cukup besar. Sementara toko kecil tidak punya, jadi konsumen yang datang ke mereka terpaksa memarkir kendaraannya di pinggir jalan,” ungkapnya.

Surga Kuliner dan Fashion

Siapa yang tak tahu kota Bandung, kota yang pernah menjadi saksi perjuangan para pahlawan kita dalam mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda,yang terkenal dengan “Bandung Lautan Api”.Sejak dibukanya Tol Cipularang kota bandung makin sering disambangi widom dari Jakarta yang berburu fashion dan kuliner khas Bandung.

Kota ini pernah mendapat sebutan “paris van java” ,karena dianggap mirip dengan kota Paris,Prancis.
Hawa yang sejuk,panorama yang indah dengan bangunan2 yang bersejarah,dan juga gadis2 cantik,menambah eksotika keindahan kota bandung.

Selain wisata alam ,bandung juga terkenal dengan wisata belanja. Karena masyarakat bandung tuh terkenal kreatif,entah itu dalam bisnis,maupun seni.Maksud bisnis disini yaitu mereka kreatif dalam menciptakan sesuatu yang memiliki nilai jual tinggi,entah itu kuliner maupun fashion.
Ngomong-ngomong soal fashion,bandung memang sudah sangat terkenal dengan fashion nya,ato bisa dibilang bandung tuh ibukota nya fashion di Indonesia. Banyak sekali “industri rumahan” dibidang fashion,seperti t-shirt,celana jeans,sepatu,dll. Dengan banyak nya Mall,Distro,FO(Factory Outlet), adalah bukti bahwa bandung tuh surganya belanja.Harga barang-barang disini juga lumayan murah,karena barang langsung dipasok dari pabrik mereka sendiri.

Tiap akhir pekan banyak wisatawan dari luar kota,terutama jakarta,yang berkunjung ke bandung,sekedar  menghabiskan uang mereka untuk berbelanja,selain untuk liburan bersama keluarga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s