Tegal, Jepangnya Indonesia

Tegal, Kabupaten Jepangnya Indonesia


Slawi, Mungkin sebagian dari kita tidak mengetahui kalau suku cadang kendaraan bermotor dengan merk terkenal adalah asli buatan rakyat Tegal. Pun demikian dengan sambungan selang pemadam kebakaran juga asli buatan rakyat Tegal. “Itu asli buatannya rakyat Tegal, karena Tegal tidak punya merk maka dikasi merk oleh sebuah perusahaan sepeda motor dari Jepang,” ujar Wakil Bupati Tegal, Mohamad Herry Sulistyawan saat menerima rombongan kunjungan camat, perbekel dan lurah Jembrana di Ruang Rapat Bupati Tegal, Selasa (6/4).

Selain itu, imbuh Sulistyawan, berkat bantuan Departemen Perindustrian, Tegal telah memiliki Kawasan Industri yang dihuni oleh ribuan industri kecil. “Kalau mau cari alkes (alat kesehatan), silahkan datang ke Tegal saja. Kursi buat dokter gigipun kita sudah bisa buat, hand tractorpun sudah bisa kita produksi,” tambahnya.

Sulistyawan tidak memungkiri kalau kondisi tersebut membuat daerahnya dijuluki Jepangnya Indonesia. “Apalagi kita sudah berancang-ancang akan mengembangkan mobil nasional dengan mesin 500 cc, makanya tidak salah kiranya kalau kita sering dijuluki Jepangnya Indonesia,” ujar mantan Sekda Tegal ini dengan bangga.

Hanging Bridge di Kab Tegal

Klaim Tegal sebagai ‘Jepang-nya Indonesia’ mungkin hanya menjadi menjadi klaim lokal yang hanya diketahui warga Tegal sendiri atau warga di wilayah eks. Karesidenan Pekalongan. Meski demikian, klaim ini bukan tidak beralasan. Industri pengolahan merupakan penyumbang 25,81 persen Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Tegal, berada di peringkat kedua setelah perdagangan, hotel, dan restoran (28,64 persen). Tidak kurang dari 24 jenis industri logam dapat dihasilkan pengrajin Tegal semisal industri komponen dan suku cadang kendaraan bermotor, alat berat, otomotif, kapal dan kelautan, listrik, kesehatan, senjata angin, aksesoris, perbengkelan, pertanian, perkebunan, bahan bangunan dan rumah tangga, karoseri, pemadam kebakaran hingga peralatan pompa air (Kustomo (ed), 2005). Tegal juga dikenal sebagai tempat berdirinya Lingkungan Industri Kecil (LIK) pertama-tama di Jawa Tengah.

Kultur Wirausaha

Penduduk Tegal dikenal memiliki kultur wirausaha yang telah menjadi tradisi sejak lama. Keberadaan warteg yang merajai bisnis makanan di ibukota—bersaing dengan rumah makan Padang menjadi salah satu bukti. Belum lagi banyaknya pabrik Teh yang ada di Tegal, Cikal bakal Sosro Group yang terkenal dengan slogan apapun makananya Teh botol Sosro minumanya juga berasal dari Slawi ibukota kab Tegal, perusahaan shutle cock terkenal Sinar Mutiara juga di Tegal denagn memanfaatkan bulu itik untuk shuttlecok kelas dunia. Di bidang industri kecil, kultur ini terbangun sejak kedatangan Ki Gede Sebayu (berkuasa 1601-1620) pendiri Tegal dari tlatah Pajang (Solo). Ki Gede Sebayu membawa serta 40 kepala keluarga pengikutnya. Oleh Ki Gede mereka ditempatkan di empat desa berbeda sesuai keahliannya. Mereka yang bermukim di Desa Sayangan andal membuat alat-alat perlengkapan dapur. Sedang yang menempati Desa Mejasem pandai membuat alat-alat pertukangan. Pengikut Ki Gede Sebayu yang membuka lahan di Desa Pagongan ahli membuat alat-alat gerabah serta penduduk Desa Banjaran piawai mengolah bahan-bahan menjadi penganan atau jajanan.

Kultur ini menemukan momentumnya ketika Haji (Kaji) Gofur (91) salah seorang pengusaha besi asal Tegal mengangkut 21 pesawat terbang tua dari Madiun Jawa Timur pada dekade 1970-an. Oleh Kaji Gofur pesawat itu dipreteli menjadi bahan baku industri mesin rumahannya, serta dijual kepada pengusaha lain. Paling tidak sejak saat itu industri pengolahan logam mulai bergairah di Tegal. Selain LIK di Dampyak Kramat, sentra-sentra industri ini tersebar di Kecamatan Talang, Tarub, Adiwerna, Kramat, Suradadi, Warureja, Salwi,Lebaksiu(Martabaknya diseantero Indonesia) dan Bumijawa. Belum Lagi A&W (Ameriki Warteg) ,Tidak kurang 128.853 orang terserap pada industri-industri pengolahan dari yang berskala besar, menengah, kecil hingga mikro. Tidak salah bila kemudian Tegal mengklaim dirinya sebagai kota industri.

Tegal Bangkit

Bisa jadi klaim Tegal sebagai ‘Jepang-nya Indonesia’ atau Tegal sebagai kota industri (pengolahan) tidak dikenal publik secara luas karena penduduk hanya memproduksi bahan komponen. Dengan bentuknya sebagai bahan setengah jadi, konsumen akhir mungkin tidak sadar dan mengira bila jendela kedap air, kemudi atau perlengkapan kapal yang ditumpanginya, atau suku cadang pompa air, rice mill hingga blankwir mobil pemadam kebakaran diproduksi oleh pengrajin Tegal. Realitas ini di samping menegasikan keberadaan pengrajin Tegal dalam persepsi konsumen akhir juga membuat pengrajin Tegal menutup diri terhadap kemungkinan untuk lebih maju dan kreatif. Soal kreativitas memang menjadi problem tersendiri karena biasanya pengrajin membuat sebuah produk berdasarkan pesanan. Sudah saatnya pengrajin Tegal berpikir untuk membuat produk hasil kreasi sendiri, bahkan memproduksi barang-barang jadi, tidak lagi sebagai komponen atau suku cadang. Transformasi ini akan lebih menguntungkan secara finansial dan moral hak cipta pengrajin, selain mengangkat nama daerah di kancah regional dan nasional.

Pemberdayaan pengrajin juga dapat dilakukan dengan penguatan peran dan fungsi LIK. Problem klasik yang dihadapi pengrajin biasanya berkutat pada pemenuhan bahan baku, kreasi teknologi serta jangkauan jaringan pemasaran. Keberadaan LIK sangat strategis sebagai lokalisasi kegiatan wirausaha dan dapat menjadi wadah pengrajin dalam mengorganisasi diri untuk bersaing di bisnis industri (pengolahan). Lokalisasi dalam LIK juga strategis dalam upaya mengontrol dan mengelola limbah hasil industri pengrajin.

Tidak kalah pentingnya adalah upaya-upaya strategis dalam menyikapi serbuan produk-produk dari Cina yang lebih murah. Pada level kebijakan, proteksi dapat dilakukan pada kebijakan impor maupun kemauan untuk menggunakan produk lokal. Kampanye penggunaan produk lokal dapat dimulai dilakukan oleh pemerintah dalam program dan kegiatan pembangunan yang membutuhkan produk industri (pengolahan). Keberpihakan pemerintah dengan menggunakan produk lokal ini akan membantu pengrajin dalam meluaskan pemasaran produk. Bagi pengrajin tidak ada cara lain kecuali tetap bertahan sembari mengembangkan diri dengan melakukan kreasi peningkatan mutu, hingga diversifikasi produk.

Asli Wong Tegal

3 thoughts on “Tegal, Jepangnya Indonesia

  1. Pingback: Tegal, Jepangnya Indonesia (via The Positive Power Of Sharing) « dimasponco

    • saya lebih banyak dijakarta pak iwan, jarang pulang ke tegal. untuk pengrajin biasanya ada di daerah Talang dan Adiwerna. mungkin bisa hubungi disperindag kabupaten tegal. bisa hubungi mereka karena mereka punya data validnya. atau mungkin ntar saya cek ada koperasinya seperti kowarteg. boleh tahu info pak iwan produknya dan websitenya. bisa kirim ke email saya: hendraxsap@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s